Monday, 4 July 2022

Tidak Nurut Mama

Pada suatu sore yang cerah, Rara berjalan-berjalan santai bersama Mamanya di taman komplek dekat rumah yang ramai. Angin sepoi-sepoi bertiup menerbangkan bau gorengan yang lezat, Rara melihat ada penjual gorengan di bawah pohon beringin. Kemudian ia bertanya kepada Mama, "Ma aku boleh gak beli gorengan itu?"  

Mama melirik ke penjual gorengan itu. Karena penjual gorengannya tidak pakai masker, gorengannya tidak ditutup, dan banyak lalat yang berterbangan di sekeliling gorengan itu, maka Mama menggeleng sambil berbisik, "Jangan, sebaiknya kita bikin sendiri saja nanti. Tiga hari lagi kan kita mau pergi ke Labuan Bajo, nanti kalau kamu sakit tidak ikut, hanya Mama dan papa saja yang pergi" 

Rara kesal, cemberut dan berujar dalam hati, "Kan kalau aku makan satu dua tidak akan kenapa-napa." 

Besok paginya Rara bermain bersama temannya Freya, "Hai Rara, kamu mau nemenin aku gak? Aku mau jajan gorengan nanti kamu aku traktir!" tanya Freya.  

"Mmm” Rara  bepikir  sejenak sebelum akhirnya berkata ”Ayo deh!”

Sesampai di tukang gorengan Rara sadar bahwa tukang gorengannya sama dengan yang ia temui kemarin bersama Mamanya.

"Eh Ra, ayo kita beli yang banyak harganya murah!" bisik Freya kepada Rara. 

Rara sebenarnya mau menolak tawaran traktiran Freya, tapi karena ia tidak mau mengecewakan temannya, dan ia berpikir Mama tidak melihat kalau dia makan gorengan, maka ia memutuskan menerima traktiran Freya. "Ehh ayo!" kata Rara.  

Freya membeli lima belas buah gorengan, "kamu tujuh, aku delapan ya" seru Freya saat di kursi taman. Rara mengangguk setuju karena itukan memang milik Freya jadi terserah dia. 

"Dadah Rara, sampai jumpa besok!" Seru Freya.  

“Aku besok tidak main,” kata Rara.  

“Kenapa?” tanya Freya.  

“Karena aku pengen siap-siap, lusa aku pengen pergi ke Labuan Bajo,” jelas Rara. Hari sudah menjelang siang, mereka berdua pulang ke rumah masing masing.  

"Eh Rara sudah pulang!" sambut Mama saat Rara masuk rumah "Tadi Rara main apa?" Tanya Mama. 

"Aku tadi main sama Freya aku main..." Rara bingung mau bilang apa, "...ehh aku tadi sama Freya main board game sama video game..." Kata Rara berbohong. Ia merasa tidak enak pada Mama.

"Baiklah kalau begitu, ayo makan! Mama membuat sup sosis hangat. Jangan lupa cuci tangan dulu ya!" ujar Mama mengingatkan. "Oh iya, Mama juga mau bicara dengan kamu" Mama menambahkan. 

Rara merasa tidak enak, lalu dia cuci tangan dan memakan supnya, "Ada apa ma?" tanya Rara. 

"Pergi ke Labuan Bajo ditunda minggu depan, karena Papa ada pekerjaan mendadak besok…" Mama menjelaskan.

Sebenarnya Rara agak kecewa karena ia sudah menunggu-nunggu, tapi dia pasrah, "Oke ma, tidak apa-apa kok!" kata Rara. 

"Ya udah jadi Rara Besok main aja, tapi ingat jangan jajan sembarangan, karena mungkin nanti akan ada perubahan lagi karena ini juga belum pasti." ujar Mama mengingatkan. 

"Oke, Ma." jawab Rara. 

Besoknya Rara memanggil Freya, "Freyaaa! Main yuk!" seru Rara. 

"Ada apa Rara, eh bukannya kamu mau siap-siap untuk besok pergi?" tanya Freya yang sedang menyiram tanaman di kebunnya.

"Iya aku perginya ditunda," jawab Rara. 

"Oh, kalau gitu aku pengen beli es potong temenin yuk! Tapi kali ini aku gak traktir kamu ya”

“oke” kata Rara mengankat alisnya

Mereka berdua berjalan ke lapangan, lalu mereka bertemu dengan teman mereka Kelly. 

"Eh kalian pada mau kemana?" tanya Kelly. 

"Kami mau beli es potong," jawab Rara.  

"Aku sih pengen ikut kalian beli es potong, tapi kata Mama aku gak boleh jajan sembarangan,” ujar Kelly. 

Mendengar penjelasan Kelly, Rara jadi ingat pesan Mamanya untuk tidak jajan sembarangan, tapi ia mengabaikan pesannya karena sangat suka es potong, lagi pula kan perginya ditunda. Sampai di tukang es potong, Rara dan Freya membeli beberapa potong es. 

"Ra, besok aku mau berenang kamu mau ikut gak? Berenang di rumah aku." 

"Mau! Aku tanya Mamaku dulu ya," jawab Rara 

Sesampainya di rumah, "Ma besok Rara boleh berenang di rumah Freya?" tanya Rara pada Mama yang habis menelepon seseorang. 

"Iya boleh, tapi jangan lama-lama ya," jawab Mama cepat. 

"Yey!" sorak Rara. 

Malamnya, saat Rara sedang membaca buku ensiklopedia di ruang tamu, Mama memanggil, "Rara makan dulu yuk Mama buat ikan bakar favorit kamu nih!" kata Mama. 

"Oke mah Rara segera datang," jawab Rara, tapi tiba-tiba "Aduuh" teriak Rara nyaring, ia langsung pergi ke toilet dan beberapa menit kemudian ia keluar dari toilet, tapi ia mulas lagi dan langsung bergegas ke kamar mandi, terus berulang beberapa kali.  Mama heran dan menghampiri Rara setelah keluar dari toilet beberapa kali. 

"Kenapa Ra?"  

"Tadi aku diare dan agak mual, perutku juga sangat mulas." rintih Rara, dan…"hatchii" Rara bersin!

"Memang Rara habis makan apa kok bisa sakit perut dan bersin-bersin?" Tanya Mama.

"Enggak kok… tapi eh sebenarnya mmm Rara gak nurut Mama, tadi Rara jajan sembarangan, jajan es potong di lapangan. Terus kemarin Rara jajan gorengan yang waktu itu Mama gak bolehin Rara beli," Rara menjelaskan sambil menunduk menyesal. Rara kira Mama akan marah, tapi Mama hanya mengambil napas panjang

sambil mengusap minyak kayu putih ke perut Rara, Mama berbicara, "Sebenarnya sih tidak apa-apa, yang penting kamu menerima resikonya, pertama kan kamu sakit jadi tidak ikut deh besok ke Labuan Bajonya…” 

Rara memotong dengan nada kecewa. “Bukannya minggu depan perginya, bukan besok!?” 

“Soalnya ternyata papa pekerjaannya di sana besok” kata Mama menjelaskan. "Tadi siang Mama baru saja diberitahu,"

Rara bersandar lemas di sofa abu-abu, mencium aroma kayu putih yang habis Mama usap ke tubuhnya. Ia melihat Mama tersenyum, tapi di matanya senyum itu agak buram karena ia merasa sedikit pusing. Ia merasakan mual dan hidungya gatal seperti sehabis dari ruangan berdebu. Ia merasa sangat kecewa karena tidak jadi ke Labuan Bajo ditambah perutnya yang mulai lebih sakit, membuat dia ingin menagis tapi mau bagai mana lagi itu kan memang salahnya.

Melihat muka Rara yang mulai pucat, Mama khawatir dan berkata sambil mengambilkan jaket untuk Rara, "kita ke dokter dulu yuk untuk mendapatkan obat,"

Sesampainya di klinik, Mama mendaftar dan menunggu giliran, beberapa menit kemudian dokter  memanggil, “Anak Rara!”

Ketika dokter bertanya keluhan yang dirasa, Mama menjelaskan, "Dok, anak saya sakit perut dan bersin bersin."

"Coba ibu dokter cek dulu ya," kata dokter kepada Rara sambil menyuruhnya berbaring untuk di periksa. Dokter juga bertanya beberapa hal kepada Mama.

Setelah di cek, dokter berkata, "Dari penjelasan ibu dan hasil pemeriksaan sepertinya Rara terinfeksi virus atau bakteri, sebaiknya jangan makan atau minum yang dingin dan terlalu manis dulu ya, dan biasanya penyebab diare adalah makan makanan yang tidak terjaga kebersihannya, dan  makan makanan yang  terlalu pedas.”

"Baik bu dokter," ujar Mama.

Lalu Mama dan Rara pulang setelah menerima obat dari apotek. Akhirnya Rara tidak jadi pergi ke Labuan Bajo, tidak jadi makan ikan bakar favoritnya dan yang terakhir tak jadi berenang di rumah Freya.


The End

Oleh: Nada Narendradhitta

Friday, 11 June 2021

Mimpi Atau Nyata?

Oleh: Nada Narendradhitta

Aku sedang belajar Bahasa Inggris di rumah, ketika benda sangat besar jatuh dari langit. Untungnya benda itu jatuh dekat lapangan dan hutan yang besar jadi tidak ada yang terluka walaupun banyak pohon yang rusak.

Dorr! 

Tetangga-tetanggaku kaget dan pada keluar rumah melihat apa yang terjadi, ibuku juga keluar begitupun aku. Ternyata di luar ada pesawat yang sangat besar (bukan pesawat yang sering kamu lihat di langit ya). Pesawat itu berbentuk seperti tetes air hujan yang ukurannya beribu ribu kali lipat. Pak RT dan beberapa tetangga melihat ke dalam pesawat dan masuk. Setelah mereka masuk, tetanggaku yang lain masuk kerumah lagi sambil bercerita tentang kejadian luar biasa itu. Lalu setengah jam kemudian pak RT dan beberapa tetanggaku keluar dari pesawat itu.

“Ibu itu tuh pak RT udah keluar” kataku pada ibuku yang sedang memasak sop untuk makan siang. Lalu aku dan ibuku keluar lagi.

“di dalam pesawat tidak ada seorangpun” kata pak RT, “untuk pengamatan lebih lanjutnya kita teruskan besok saja”.

Malam harinya… 

“Nak tolong petikan daun bayam gih di kebun” ujar ibuku. 

“Baik bu” lalu aku pergi ke kebun sambil membawa keranjang rotan. Sesampainya di kebun, aku mendengar suara dan saat aku lihat ada alien! Aku ingin sekali berteriak tapi aku kasihan karena ternyata alien itu menangis. 

“A-da ap-pa-ke-kenap-pa kamu m-mennang-is?” tanyaku terbata-bata lalu alien itu memandangku.

“Aku kehilangan pesawat jadi tidak bisa pulang,” tangis alien itu. Beberapa jam sebelumnya, pesawat kehilangan keseimbangan dan jatuh. Alien itu terlontar dari pesawat dan mendarat di menggunakan parasut di tempat terpisah.

“O cepat sini ikut aku” kataku sambil berlari pelan menuju pesawat itu. “Apakah ini pesawatmu?”.

“iya betul!” jawab alien itu. 

“Eh tapi nanti orang orang akan bingung kemana hilangnya pesawat itu kalau kau membawanya pulang!” kataku.

“Oh kalau itu aku akan mengurusnya” kata alien itu. “Mereka besok akan lupa soal ini”. 

“Benarkah!”

“Dan kamu akan menganggap ini mimpi…”

Kukuruyukk… 

“Hah apa yang terjadi” aku bangun dari tidur

“Nak bangun ayo sarapan sudah jadi!” seru ibuku lalu aku bangun dan duduk di meja makan.

“Makan apa sekarang bu?” tanyaku.

“Hmm apa kamu lupa! Bukan kah kamu yang kemarin malam memetik bayam!” 

Hah jadi mimpi itu nyata atau tidak! Kataku dalam hati.


The end

Gambar oleh: Nada Narendradhitta

Wednesday, 10 February 2021

Proyek Menulis Bersama Selingkar (Tema Makanan Tradisional)

Ini adalah karyaku dalam proyek menulis buku ensiklopedia makanan tradisional Indonesia bersama Selingkar. Untuk lebih lengkapnya buku ensiklopedi tersebut bisa dilihat di sini.






Saturday, 30 January 2021

Membaca dan Pelajaran Bahasa Ibu

Di Finlandia, siswa sekolah dasar kelas satu dan dua, tiap hari mengawali kelas dengan pelajaran Modersmål atau Bahasa Ibu. Sementara untuk kelas tiga sampai enam, Modersmål selalu ditempatkan pada jam pertama setiap Senin.

Apa yang dilakukan para guru dalam pelajaran itu? Membacakan cerita. Setelah mendengarkan cerita, murid-murid diminta melakukan aktifitas lanjutan seperti menggambar ilustrasi atau bahkan untuk anak kelas lima dan enam, anak-anak diminta membuat musik berdasarkan cerita yang dibacakan.

Jadi pelajaran Modersmål (Bahasa Indonesia jika di Indonesia) dengan penyampaian melalui cerita merupakan pelajaran paling penting bagi anak-anak. Bayangkan, dalam 5 hari sekolah, kelas satu dan dua belajar Bahasa selama 7 jam. Untuk kelas tiga dan empat 6 jam. Sementara untuk kelas enam 5 jam.

Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa Finalandia, negara dengan kualitas pendidikan
terbaik di dunia menekankan pentingnya pelajaran bahasa di usia sekolah dasar?

Sederhana, karena bahasa adalah alat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Kaitan bahasa dengan pelajaran-pelajaran lain sangat erat, bahkan tanpa kecakapan berbahasa, anak-anak akan kesulitan memahami matematika. Karena manusia berpikir dengan bahasa dan bahasa membentuk pikiran seseorang. Jika anak-anak cakap berbahasa, mereka akan mampu menata pikiran, menyampaikan gagasan dan berkomunikasi dengan baik. Tujuan akhirnya, kecakapan berbahasa akan membuat transfer pengetahuan atau kegiatan pembelajaran akan semakin baik.

Kelemahan dalam pelajaran bahasa ini, dengan segala aspeknya (seperti komunikasi lisan, membaca efektif, menulis kreatif, dan literasi media) yang akhirnya menyebabkan nilai PISA (metode penilaian internasional yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa di tingkat global) sangat rendah. Untuk nilai kompetensi Membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai tersebut cenderung stagnan dalam 10 - 15 tahun terakhir.

Di Indonesia, usaha pemerintah melalui kementrian pendidikan untuk memperbaiki hal tersebut sudah ada sejak lama. Saat ini, Ujian Nasional SD ditiadakan dan UN untuk tingkat sekolah yang lebih tinggi diganti menjadi AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) yang berguna untuk mengukur kinerja sekolah berdasarkan literasi dan numerasi siswa, dua kompetensi inti yang menjadi fokus tes PISA, Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), dan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS). Perbaikan ini tentu membutuhkan proses yang mungkin akan panjang.

Mengharapkan perubahan dari institusi yang tingkat korupsinya termasuk yang paling besar, memang membuat frustasi. Namun usaha mendidik bukanlah usaha pemerintah semata. Sebagai praktisi homeschooling yang membaca nilai PISA itu, saya tergerak untuk mengingatkan kembali terutama pada diri saya untuk lebih peduli pada literasi anak. Maka dengan rendah hati, saya mengajak orang-orang yang peduli pada pendidikan anak untuk memulai gerakan membaca cerita. Dimulai dari diri sendiri, dari rumah.

Saya bahkan masih membacakan cerita atau buku untuk Nada padahal waktu itu ia sudah lancar membaca. Walaupun pada akhirnya karena tidak sabaran dan penasaran, ia akhirnya membaca sendiri. Sekarang, tidak ada yang bisa menghentikan kesenangannya membaca. Pada umur 8 tahun ia telah menamatkan 7 jilid novel Harry Potter.

Selain menumbuhkan kesenangan pada bacaan, membuat anak-anak terbiasa paham dengan Bahasa dan segala seluk beluk Bahasa dari mulai majas, struktur, logika dan banyak hal lain tanpa harus membebani mereka dengan terori-teori kebahasaan, membacakan cerita juga bisa lebih mendekatkan anak dengan orang tua.

Lebih dari itu, pelajaran penting lain termasuk pengembangan karakter bisa dilakukan. Saya percaya, cerita adalah alat mendidik yang paling efektif karena menarik dan bisa mempengaruhi dengan halus, tanpa berteriak atau menceramahi. Saya mendongeng untuk mengatakan bahwa orang yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat buruk, tapi yang menyesali perbuatan buruk dan punya keinginan untuk berubah. Saya bercerita untuk mengganti kalimat, “Membalas boleh dilakukan, namun jangan berlebihan.” atau “Tidak ada yang ingin berteman dengan pembohong.”

Thursday, 12 November 2020

Saturday, 3 October 2020

Review Buku The Lord of The Rings: The Fellowship of The Rings


2 Oktober 2020

Judul Buku        : The Fellowship Of The Ring

Pengarang          : J.R.R. Tolkien

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun/Cetakan  : April 2002, Cetakan ketiga

 

Nilai (√)

😊

😐

☹

√

 

 

 

Buku ini menceritakan tentang:

Anak angkat Bilbo Baggins yang bernama Frodo, ia ditakdirkan menghancurkan cincin kuat yang sangat jahat.

Saat Frodo beranjak 50 tahun, Gandalf menceritakan bahwa cincin yang diwariskan padanya adalah cincin yang sangat berbahaya. Cincin itu bisa membuat seseorang menjadi tidak bisa dilihat, jahat dan kuat. Kalau cincin itu kembali ke pemiliknya yang sangat jahat bernama Sauron, dia dan cincin itu bisa menguasai dunia. Lalu Frodo pergi dengan tukang kebunnya yang jugha teman dan tetangganya bernama Samwise Gamgee untuk melelehkan cincin itu di tempat ia dibuatsekaligus rumah Sauron, yaitu gunung berapi Mordor. Hanya di situlah cincin itu bisa dihancurkan. Mereka bersatu bersama dua hobbit yang lain, satu Elf (peri), dua manusia, satu penyihir, dan satu kurcaci memulai perjalanan menuju Mordor. Mereka melewati berbagai rintangan yang sangat berbahaya.

 

Tiga hal menarik dari cerita ini:

1.       Waktu Tom Bombadil memakai cincin itu tapi ia tidak menghilang

2.       Saat empat hobbit menjadi rombongan

3.       Waktu bertemu dengan Lady Galadriel dan Lord Celeborn

 

Pendapatku tentang buku ini:

Menurutku buku ini bagus untuk dibaca karena selain ceritanya seru kita juga belajar tentang kegigihan dan kesetia kawanan.

Buku sejenis yang pernah aku baca:

The Hobbit, Harry Potter, dan Bumi-Nebula

Monday, 3 August 2020

Review Novel The Chronicles of Narnia C. S. Lewis

 



  • Sang Singa, Sang Penyihir dan Lemari (1950)
  • Pangeran Caspian (1951)
  • Petualangan Dawn Treader (1952)
  • Kursi Perak (1953)
  • Kuda dan Anak Manusia (1954)
  • Keponakan Penyihir (1955)
  • Pertempuran Terakhir (1956)



Monday, 13 July 2020

Buku Ajaib

Oleh: Nada Narendradhitta

“Nah anak-anak, tugasnya kelompoknya memerhatikan kupu-kupu ya,” kata ibu guru mengahkiri pelajaran, sekalian membereskan kertas yang berserakan di meja.

Luna, Fina, Korin, bertopang dagu, karena mereka menganggap di Taman Kupu-kupu banyak tawon dan lebah, mereka jadi malas ke sana.

“Mau bagai mana lagi? Itukan ibu guru yang suruh,” kata Luna sambil mengonde rambutnya yang panjang dan pirang.

Saat itu mereka sedang di kantin, menikmati makanan ringan sehabis pelajaran akhir selesai.

“Baiklah kalau begitu besok jam lima belas pas ya kita ke Taman Kota.” ujar Korin sambil menggigit cupcakenya.

“Coba ada unicorn atau paling tidak hewan fantasy lain, aku akan mempelajarinya dengan semangat, sangaat semangat,” kata Fina sambil menyisir rambut coklatnya yang sebahu dan tebal dengan jari.

Kedua temannya tertawa keras sampai keluar air mata.

“Fina, Fina, mana ada unicorn atau hewan fantasy lainnya? Kamu ini kebanyakan mengkhayal!” kata Luna terkikik geli.

“Iya Finaaa,” tawa Korin.

“Tidak apa-apa kalin tertawa!” ujar Fina ketus, mukanya merah padam, lalu ia pergi ke meja lain meningalkan keripik kentang yang belum habis.

Tawa kedua temannya tersumpal saat Fina pergi.

“Ada apa dengannya?” tanya Korin cemas, “Sepertinya dia sakit hati gara-gara kita tertawa” tambahnya.

“Iya,” Luna mengangguk setuju.

Keesokan harinya mereka berangkat ke Taman Kota. Korin dan Luna sudah dekat dengan Taman Kota, tapi tiba-tiba Korin bertanya, “Bagai mana kalo kita ke rumah Fina dulu? Kan rumah Fina dekat dengan Taman Kota!” tambah Korin semangat.

“Mmm, boleh juga!” jawab Luna mengangguk setuju.

Ting nong, ting nong, ting nong..

Sesampainya di rumah Fina, mereka membunyikan bel. Tidak ada jawaban. Mereka membunyikan bel lagi, lalu ada orang dari dalam membukakan pintu untuk mereka.

“Oh Luna dan Korin! Ayo masuk!” Ajak Ibu Fina dari ambang pintu.

“Finanya ada di mana, Tan?” tanya Luna bingung.

“Fina lagi di kamarnya, sepertinya lagi baca buku.” kata ibu Fina.

“Kalian ke atas saja, nanti tante siapkan kue,” Ibu Fina tersenyum ramah.

“Waah kue! Terima kasih banyak tante!” Korin menggosok tangan karena tidak sabar.

Mereka menaiki tangga pualam yang mewah. Di depan pintu kamar Fina, Korin kagum karena pintu itu berhias permata kecil-kecil dan bubuk-bubuk emas, gagang pintunya juga dari besi yang sangat bagus dan mengilap. Luna menghembuskan nafas pelan, lalu mengetuk pintu.

“Oh, iya siapa itu? Masuk!” suara dari dalam kamar terdengar tak acuh.

Saat mereka masuk, Fina terlihat sedang tengkurap di atas kasurnya sambil membaca buku. Ada kehenigan sesaat, sampai akhirnya Luna angkat bicara, “Eeh, maaf yang kemarin ya Fina,”

“Eh iya, maafkan kami,” tambah Korin sambil menunduk.

“Tidak apa-apa kok!” wajah Fina merona merah, ia malu karena memang seharusnya ia tidak semarah itu, “Aku kemarin memang terlalu menghayal,”

Fina meletakan buku bersampul merah marun di atas meja. Luna dan Korin saling pandang curiga setelah melihat buku tersebut.

“Masa buku fantasy doang aku percaya sih?” Fina seperti mengerti kebingungan kawannya, “tapi gak tau kenapa, kayak ada yang disembunyiin di dalam buku ini,”

“Oooh,” Korin hampir tertawa lagi mendengar penjelasan Fina yang seperti tidak masuk akal.

Luna menyengol Korin. Kemudian agar Fina tidak terlalu mendengar kikikan Korin, Luna bertanya, “Eh ngomong-ngomong, buku itu kamu dapat dari mana?”

“Aku dapat dari pamanku yang kerjanya di daur ulang kertas,” kata Fina memulai ceritanya, “Minggu lalu aku diajak ke pabriknya, karena ia mendapat banyak buku bekas yang masih bagus, dan sayang kalau harus didaur ulang, dan dia juga tau aku suka baca, jadi…”

“Aku baru tahu kalau kamu suka baca!” seru Korin.

“Ssst, Korin!” seru Luna sebal, “Teruskan Fina” kata Luna sambil menatap galak Korin.

“… Oke, tadi sampe mana ya? Oh iya, pamanku tau aku suka baca, jadi dia suruh aku memilih beberapa buku. Salah satu yang paling aku suka yang ini.” Kata Fina sambil menunjukan buku berwarna merah marun, dengan tekstur bulu halus di sampulnya. Di covernya tertulis dengan aksara kuno; Hewan-Hewan Fantasy dan Cara Mereka Berkembang Biak.

“Buku ini sangat tua, jadi aku penasaran,” Fina melanjutkan, “coba kalian lihat tahun penerbitannya. Tahun 1720. Ini sudah lama sekali lho teman-teman, lihat saja kertasnya, sudah tua begini…”

“Buku itu dari mana? Maksudku, pamanmu dapat dari mana?” Luna memotong penasaran.

“Nah, tuh kamu kan yang memotong penjelasan Fina,” kata Korin tersenyum jail.

Muka Luna merah karena sebal dengan Korin.

“Eh sudah-sudah,” kata Fina, “Mau aku jawab pertanyaannya gak?” kata Fina yang ingin menjawab pertanyaan Luna.

Luna tersenyum puas, Korin kelihatan kecewa. Saat itu juga ibu Fina masuk membawa senampan kue kering dan segelas jus jeruk segar, wajah kecewa Korin hilang, lalu ia lansung duduk di samping tempat nampan diturunkan.

“Kamu pasti suka kue dan jus ini, Korin.” kata ibu Fina tersenyum lalu keluar kamar.

“Tadi pertaanyaanku belum dijawab Fin,” Luna masih pensaran.

“Oh itu ya, aku jawab sambil makan kue aja yuk!” Fina menarik tangan Luna turun dari kasur yang mewah dan bertenda, ke arah meja kecil tempat nampan.

“Kalo tentang itu, pamanku dapat dari seseorang yang beli rumah tua di dekat hutan perbatas kota, menurutku rumah itu angker. Nah di dalam rumah itu terdapat buku-buku tua, pemilik rumah yang baru menjualnya ke pamanku untuk didaur ulang. Dan sisanya udah aku ceritain tadi,” jelas Fina sambil mengunyah kue kering.

Fina membuka halaman akhir buku tebal merah itu, “Aaaaaa!” tiba-tiba ia menjerit nyaring sambil menjatuhkan buku itu.

“Ada apa Fina!?” tanya Korin dan Luna berbarengan.

“Ini seperti mimpiku dua hari kemarin,” Fina menjelaskan terbata-bata, “D-di-sin-i a-da cermin tib-a- ti-ba,” katanya ketakutan

“Hah! mana mungkin?” Luna tidak percaya.

“Apa itu sebabnya kamu marah waktu kita bilang hewan fantasy tidak ada?” Korin mencoba memahami mimpi Fina, “Kamu bermimpi bertemu hewan-hewan fantasy?”

“Ya, seperti itu.” Fina senang namun masih kaget, “Ini persis seperti di dalam mimpiku. Coba kalian perhatikan, cerminnya tidak memantulkan kita”

Luna dan Korin sebenarnya tidak percaya tapi mereka penasaran lalu bergantian melihatnya.

“Cermin ini aneh sekali,” Luna heran.

Setelah mengamati kaca aneh itu, Korin mengembalikan buku ke Fina.

Fina menyentuh kaca itu dan tiba-tiba tersedot ke dalamnya. Korin dan Luna kaget bukan kepalang. Mereka refleks menyentuh kaca itu juga, dan mereka ikut tersedot.

Buku merah itu jatuh ke tangan Luna setelah mereka bertiga masuk. Awalnya mereka seperti berputar-putar dalam gelap, namun sesaat kemudian mereka sudah berada di hutan. Luna silau meihat sinar dari bunga raksasa berwarna putih keemasan bentuknya mirip bunga mawar. Korin mengamati lingkungan sekeliling. Mereka berada di kerumuna pohon-phon besar berwarna cerah. Ada pohon dengan daun berwarna merah keunguan, dan jingga gradasi pink. Mereka menginjak rumput berbentuk hati yang berwarna pelangi. Rumput-rumput itu kalau kena angin berputar-putar dan warna pelangi muncul. Saat angin sepoi-sepoi bertiup, angin itu sangat segar berbau jeruk.

Cukup sekali mengamati hutan aneh itu, mereka melihat Fina sedang terisak, mereka berlari menghampirinya.

“Hey, Fina!” kata mereka terengah karena berlari

“HAH! Kalian!” seru Fina lalu memeluk temannya itu “ku-kukira aku tidak akan melihat kalian lagi” katanya

“tadi kami refleks menyentuhnya” kata Korin balas memeluknya

“Iya Fina” kata Luna balas memeluknya juga.

Lalu tiba-tiba di semak dan naungan pohon besar ada sinar terang sekali seakan kalian lihat langsung ke matahari saat siang hari, mereka bertiga mendekat ke asal sinar itu sambil mengintip di sela jari. Lalu saat sinar sudah tidak terlalu terang mereka mengintip dari balik semak, coba tebak apa yang mereka lihat? UNICORN!

Mereka tidak percaya pada mata mereka sendiri, lalu mencubit pipi, sakit sekali.

“berarti ini bukan mimpi dong!” ujar Luna kagum.

Binatang itu sangat anggun, memiliki corn emas, rambut perak, dan kakinya sangat ramping sehingga kalian serasa bisa mematahkannya.

Unicorn itu pergi, mereka melihat ke sekeliling ada Peri, Pegasus, Centaur, Naga air, Monyet berbulu emas, Kappa, Hippogriff, jembalang (seperti patung kurcaci yang suka ada di kebun), dan banyak hewan fantasy lainya

“Bagai mana kalau kita tulis tentang ini semua? untuk kenang kenagan” jelas Korin

“He-eh” Fina dan Luna mengangguk serempak

Friday, 10 July 2020

Petualangan Ibu Kucing

Oleh: Nada Narendradhitta


Saat keluarga kucing bangun, mereka kaget karena jam sudah menunjukan pukul 11 siang! Mereka panik saat sadar bahwa mereka bukan di kamar rumah, melainkan di... ANGKASA!!

Mereka juga sadar semua yang ada di situ terbuat dari awan. Entahlah siapa yang tingal di sana. Saat ibu kucing dan anaknya sedang mengaggumi ruangan itu, pelayan masuk. Anehnya pelayan itu tidak terkejut samasekali, melainkan senang. Lalu dia berkata, “Selamat datang kembali di istana kucing!”


Ibu kucing heran, kenapa pelayan itu bilang kembali? Mereka berjalan mengikuti pelayan itu. Ibu kucing melihat tahta yang kosong. Pelayan membawa mereka ke kamar megah yang terletak di ujung ruangan. Pelayan itu mengetik sesuatu, dan pintu terbuka secara otomatis. Di sana ada sofa, meja kecil bervas bunga, TV, dan tempat tidur nyaman. Di tempat tidur itu berbaring ratu cantik walaupun sudah tidak muda lagi. Pelayang itu mengatakan sesuatu yang membuat ratu tersenyum.

Lalu pelayan menoleh kepada ibu kucing dan berkata, “Semua tabib


istana tidak bisa menyembuhkan ratu, tapi salah satu tabib meramalkan bahwa siapa saja yang muncul di ruangan itu, laki-laki maupun perempuan, bisa mengambil obat ratu, yaitu bunga yang tumbuh di awan tertinggi.” Sambil mendekat ke ibu kucing pelayan menambahkan, “tentu itu jika anda mau, karena sudah banyak orang yang menolak. Apakah anda bersedia?”

“Tapi bagaimana dengan anaku?” tanya ibu kucing.

“Anakmu akan baik baik saja bersama kami.” jawab pelayan.


Ibu kucing berpikir, “Mmm baiklah, tapi saya tidak tahu di mana letak gunung itu. Bagaimana saya bisa sampai ke sana?”

“Tidak masalah. Kami akan memberikan petanya.” jawab pelayan.

Keesokan harinya, ibu kucing berangkat dengan peta, teleskop, baju petualang, topi, sepatu, sekop kecil untuk menggali, tenda, dan tas ransel yang berisi 7 botol air mineral, 6 kotak nasi dan lauk, 2 bungkus cemilan, senter, tali juga lampu kecil untuk di dalam tenda.


Pada hari pertama, dia melewati hutan putih dengan berani. 1 cemilan habis, 3 kotak nasi dan lauk habis, 2 botol mineral juga habis. Ibu kucing sampai di kaki awan gunung itu, istirahat sebentar kemudian mulai memanjat.

Di hari yang kedua, 1 cemilan, 3 kotak nasi lauk, juga 3 botol air habis. Ibu kucing kehabisan bekal makanan dan cemilan, hanya tersisa 2 air mineral. Walaupun begitu, ibu kucing tetap semangat, dia terus mendaki sampai akhirnya menemukan bunga satu- satunya yang terletak di puncak gunung. Bunga itu terletak di tengah


danau yang dalam, yang tidak mungkin untuk berenang ke sana. Lalu ibu kucing mencari di sekeliling dan menemukan banyak pohon pisang. Ia membuat rakit dari pelepah pisang dan dikat menggunakan tali yang ada di dalam tas. Setelah berjuang selama dua jam mendayung dan kelelahan, akhirnya ia sampai ke tengah danau dan berhasil mencabut bunga tersebut.

Dengan perbekalan yang hanya 2 botol air mineral, ibu kucing turun gunung. Di tengah jalan ia melihat ada seekor anjing dan anaknya sedang sangat kehausan. Ibu kucing kasihan lalu ia memberi semua minuman yang


tersisa, karena dia merasa anak anjing dan ibunya lebih memerlukan.

Ibu kucing melanjutkan perjalanan menuruni gunung, tapi tidak lama kemudian ia kehausan dan berteduh di dalam gua. Tiba-tiba, muncullah Ibu dan anak anjing yang sebelumnya kehausan memberi ibu kucing alat transportasi ajaib.

“Tadi aku hanya ingin menguji kepedualianmu,” kata ibu anjing menjelaskan.

“Terimakasih banyak. Aku tidak menduganya.” Jawab ibu kucing.


“Kamu bisa menaiki alat ini. Kalau kamu haus, kamu bisa minta minum, kalau kamu lapar, kamu bisa minta makan dengan menekan tombol yang ada gambar minuman dan makanan. Dan semua alat kebutuhanmu ada di dalam.”

ibu kucing mengatakan terimakasih sekali lagi dan menaiki alat tranportasi itu, kemudian pulang.

Sesampainya di istana, anaknya sudah menanti ibu mereka. Ibu kucing memeluk mereka, dan memberi bunga kepada pelayan yang mukanya berseriseri, lalu bertanya kepadanya,


“Ehm, kenapa anda bilang selamat datang kembali waktu pertama kali kami datang?”

“Oh itu, karena dulu ibumu sahabat ibuku,” pelayan itu menjelaskan, “dulu anda dan saya masih berumur 1 tahun. Saya diberi tahu, saat perang kamu dan ibumu pergi.”

Mendengar cerita itu ibu kucing diam terkesima.

“Oke” kata pelayan tiba tiba, memecah keheningan, “waktunya kalian pulang sampai nanti dadah.”

TAMAT

MAKANAN TRADISIONAL INDONESIA: SAYUR GABUS PUCUNG

Oleh Nada Narendradhitta 9 tahun

Sayur gabus pucung banyak dijual di Bekasi, Jakarta, dan sekitarnya. Di Bekas,i dekat rumahku ada warung makan Betawi bernama RM. Haji Baka yang menjual sayur ini. Harganya Rp. 35.000 Semangkuk, rasanya pedas segar, dan pastinya enak!

Bahan gabus pucung:

Bahan pertama:

  • Ikan gabus
  • Jeruk nipis
  • Cabai rawit
  • Daun salam
  • Daun jeruk
  • Serai
  • Jahe
  • Lengkuas
  • Kluwek
  • Tomat iris
  • Gula
  • Garam
  • Air
  • Minyak

Bumbu halus:

  • Bawang putih
  • Bawang merah
  • Cabai merah kriting
  • Kunyit
  • Kemiri
  • Biji ketumbar
  • Pelengkap:
  • Irisan dau bawang
  • Bawang merah goreng

Cara:

Lumuri ikan dengan jeruk nipis dan garam untuk menghilangkan bau amis, marinasi ikan dengan bumbu selama satu jam. Panaskan minyak di wajan. Goreng ikan sampai garing. Haluskan semua bahan bumbu halus dengan blender, masukan tiga sdm minyak goreng ke dalam wajan, dan tumis bumbu halus hingga matang, lalu masukan juga semua bahan yang tersisa ke dalam wajan, masak sampai mendidih dan masukan ikan gabus, daaan sayur gabus pucung siap disantap.

Sumber resep dari: masakapahariini.com

Cerita unik:

Walaupun kuahnya warna coklat kehitaman seperti semur, tapi kuahnya tidak pakai kecap, melainkan kluwek, atau biasa orang betawi menyebutnya pucung. Oh iya ikan gabus cukup terkenal di kalangan orang Betawi karena jaman dulu kabarnya banyak rawa dan empang di daerah Betawi yang berisi banyak ikan gabus. Sehingga banyak masakan yang dibuat dari ikan gabus.