Ini adalah karyaku dalam proyek menulis buku ensiklopedia makanan tradisional Indonesia bersama Selingkar. Untuk lebih lengkapnya buku ensiklopedi tersebut bisa dilihat di sini.
Wednesday, 10 February 2021
Friday, 5 February 2021
Saturday, 30 January 2021
Membaca dan Pelajaran Bahasa Ibu
Apa yang dilakukan para guru dalam pelajaran itu? Membacakan cerita. Setelah mendengarkan cerita, murid-murid diminta melakukan aktifitas lanjutan seperti menggambar ilustrasi atau bahkan untuk anak kelas lima dan enam, anak-anak diminta membuat musik berdasarkan cerita yang dibacakan.
Jadi pelajaran Modersmål (Bahasa Indonesia jika di Indonesia) dengan penyampaian melalui cerita merupakan pelajaran paling penting bagi anak-anak. Bayangkan, dalam 5 hari sekolah, kelas satu dan dua belajar Bahasa selama 7 jam. Untuk kelas tiga dan empat 6 jam. Sementara untuk kelas enam 5 jam.
Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa Finalandia, negara dengan kualitas pendidikan
terbaik di dunia menekankan pentingnya pelajaran bahasa di usia sekolah dasar?
Sederhana, karena bahasa adalah alat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Kaitan bahasa dengan pelajaran-pelajaran lain sangat erat, bahkan tanpa kecakapan berbahasa, anak-anak akan kesulitan memahami matematika. Karena manusia berpikir dengan bahasa dan bahasa membentuk pikiran seseorang. Jika anak-anak cakap berbahasa, mereka akan mampu menata pikiran, menyampaikan gagasan dan berkomunikasi dengan baik. Tujuan akhirnya, kecakapan berbahasa akan membuat transfer pengetahuan atau kegiatan pembelajaran akan semakin baik.
Kelemahan dalam pelajaran bahasa ini, dengan segala aspeknya (seperti komunikasi lisan, membaca efektif, menulis kreatif, dan literasi media) yang akhirnya menyebabkan nilai PISA (metode penilaian internasional yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa di tingkat global) sangat rendah. Untuk nilai kompetensi Membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai tersebut cenderung stagnan dalam 10 - 15 tahun terakhir.
Di Indonesia, usaha pemerintah melalui kementrian pendidikan untuk memperbaiki hal tersebut sudah ada sejak lama. Saat ini, Ujian Nasional SD ditiadakan dan UN untuk tingkat sekolah yang lebih tinggi diganti menjadi AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) yang berguna untuk mengukur kinerja sekolah berdasarkan literasi dan numerasi siswa, dua kompetensi inti yang menjadi fokus tes PISA, Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), dan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS). Perbaikan ini tentu membutuhkan proses yang mungkin akan panjang.
Mengharapkan perubahan dari institusi yang tingkat korupsinya termasuk yang paling besar, memang membuat frustasi. Namun usaha mendidik bukanlah usaha pemerintah semata. Sebagai praktisi homeschooling yang membaca nilai PISA itu, saya tergerak untuk mengingatkan kembali terutama pada diri saya untuk lebih peduli pada literasi anak. Maka dengan rendah hati, saya mengajak orang-orang yang peduli pada pendidikan anak untuk memulai gerakan membaca cerita. Dimulai dari diri sendiri, dari rumah.
Saya bahkan masih membacakan cerita atau buku untuk Nada padahal waktu itu ia sudah lancar membaca. Walaupun pada akhirnya karena tidak sabaran dan penasaran, ia akhirnya membaca sendiri. Sekarang, tidak ada yang bisa menghentikan kesenangannya membaca. Pada umur 8 tahun ia telah menamatkan 7 jilid novel Harry Potter.
Selain menumbuhkan kesenangan pada bacaan, membuat anak-anak terbiasa paham dengan Bahasa dan segala seluk beluk Bahasa dari mulai majas, struktur, logika dan banyak hal lain tanpa harus membebani mereka dengan terori-teori kebahasaan, membacakan cerita juga bisa lebih mendekatkan anak dengan orang tua.
Lebih dari itu, pelajaran penting lain termasuk pengembangan karakter bisa dilakukan. Saya percaya, cerita adalah alat mendidik yang paling efektif karena menarik dan bisa mempengaruhi dengan halus, tanpa berteriak atau menceramahi. Saya mendongeng untuk mengatakan bahwa orang yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat buruk, tapi yang menyesali perbuatan buruk dan punya keinginan untuk berubah. Saya bercerita untuk mengganti kalimat, “Membalas boleh dilakukan, namun jangan berlebihan.” atau “Tidak ada yang ingin berteman dengan pembohong.”
Thursday, 12 November 2020
Wednesday, 11 November 2020
Friday, 30 October 2020
Saturday, 3 October 2020
Review Buku The Lord of The Rings: The Fellowship of The Rings
2 Oktober 2020
Judul Buku : The Fellowship Of The Ring
Pengarang : J.R.R. Tolkien
Penerbit :
PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun/Cetakan : April 2002, Cetakan ketiga
Nilai
(√)
|
😊 |
😐 |
☹ |
|
√ |
|
|
Buku
ini menceritakan tentang:
Anak
angkat Bilbo Baggins yang bernama Frodo, ia ditakdirkan menghancurkan cincin
kuat yang sangat jahat.
Saat
Frodo beranjak 50 tahun, Gandalf menceritakan bahwa cincin yang diwariskan
padanya adalah cincin yang sangat berbahaya. Cincin itu bisa membuat seseorang
menjadi tidak bisa dilihat, jahat dan kuat. Kalau cincin itu kembali ke
pemiliknya yang sangat jahat bernama Sauron, dia dan cincin itu bisa menguasai
dunia. Lalu Frodo pergi dengan tukang kebunnya yang jugha teman dan tetangganya
bernama Samwise Gamgee untuk melelehkan cincin itu di tempat ia dibuatsekaligus
rumah Sauron, yaitu gunung berapi Mordor. Hanya di situlah cincin itu bisa
dihancurkan. Mereka bersatu bersama dua hobbit yang lain, satu Elf (peri), dua
manusia, satu penyihir, dan satu kurcaci memulai perjalanan menuju Mordor.
Mereka melewati berbagai rintangan yang sangat berbahaya.
Tiga
hal menarik dari cerita ini:
1.
Waktu Tom
Bombadil memakai cincin itu tapi ia tidak menghilang
2.
Saat empat hobbit
menjadi rombongan
3.
Waktu bertemu
dengan Lady Galadriel dan Lord Celeborn
Pendapatku
tentang buku ini:
Menurutku
buku ini bagus untuk dibaca karena selain ceritanya seru kita juga belajar
tentang kegigihan dan kesetia kawanan.
Buku
sejenis yang pernah aku baca:
The Hobbit, Harry Potter, dan Bumi-Nebula




